Sabtu, Oktober 04, 2014

Ngaji Bareng Cak Nun

Menarik sekali ketika kesampaian 'nonton' Cak Nun di Bumiayu. Teringat tulisan sahabat saya di facebook yang mengulas Cak Nun dengan segala sepak terjangnya. Dan ternyata adalah sosok yang selalu merendah dan tidak menunjukkan siapa dirinya dan sebagai apa. Sedang pada tataran nasional dan internasional saja sudah mafhum siapa sebenanrnya Can Nun (Emha Ainun Najib).

 Dalam rangka Ngaji Bareng Cak Nun yang diselenggarakan oleh perusahaan perbankkan milik pemerintah dalamPesta Rakyat Simpedes saya dalam pikiran sempit sempat terlitas pikiran, kenapa Cak Nun mau diundang oleh perusahaan bank yang nota bene kental dengan riba, sedang Cak Nun itu sendiri sedang memberikan wejangan yang berlabel agama yang sudah jelas melarang riba.

Saya sempat tersentak oleh pikiran sempitku dan merasa malu dengan wawasan picik yang sebenarnya adalah Maha Luas Ilmu Allah itu yang tak akan mampu jika hanya dijabarkan hanya dengan ilmu saklek (taklid). Terlebih lagi tataran itu sudah termaktub dalam penjabaran yang sangat menyentuh dari semua yang telah mengemuka. Kali ini Cak Nun yang dalam kesahajaannya justru merupakan monumen hidup yang tersisa sejak bapak-bapak bangsa yang lain sudah mendahuluinya.

Cak Nun adalah yang menemani mantan Presiden Suharto lengser keprabon saat yang lain hengkang tak peduli. Cak Nun lah yang membimbing Suharto lengser dan madeg pandito hingga membimbing sampai akhir hayatnya. Sehingga Suharto merasa nyaman ketika dengan legawa menirukan ucapan 'guru'nya saat pidato pelengserannya, "Ora dadi presiden ora patheken" Pun ketika Cak Nun mampu menyentuh istri boss Lapindo bukan hanya untuk sekedar menyantuni, tetapi sudah menyentuh pada dimensi yang lebih dari sekedar urusan duniawi. .

"Empan papan", diungkapkan berulang kali ketika semua persoalan itu harus diletakkan pada tempatnya. Hidup itu jika sudah diletakkan pada tempatnya yang semestinya maka akan terasa nikmat, sekalipun begitu semua harus diperjuangkan. Ya berjuang dengan landasan ikhlas dan menakar pada kemampuan masing-masing. Dan ketika ada yang tidak mampu dipikul maka ada opsi yang sangat menjurus pada kesadaran manusia yang paling fitrah, paling arif, yaitu dikembalikan kepada ketentuan Allah lewat jalan tawakkal.

Dimensi keilahian di sini dijabarkan dihadapan para pengunjung yang sebagian besar adalah masyarakat awam wilayah Bumiayu dan sekitarnya yang tinggal di desa-desa. Namun penjabaran Cak Nun mampu mereka tangkap ketika tak menyadari jika Cak Nun adalah tokoh yang selalu muncul di setiap ada pagebluk kepemimpinan di pusat negara Indonesia yang tercinta ini.

Cak Nun yang rendah hati yang menyadari dirinya tidak pernah meningkat statusnya dari waktu ke waktu, yang mau dan sukarela berkeliling untuk 'ngamen' dengan Kyai Kanjengnya, sengaja meninggalkan dunia glamour gemerlapnya Istana Negara dengan segala 'kepongahan'nya. Cak Nun lebih memilih menepi dan mengayomi rakyat dengan mendatangi mereka hampir di setiap plosok seluruh Indonesia (bukan blusukan lho ya) . Melihat kenyataan hidup ayng dikupas Cak Nun, soal surga bukanlah sebagai jargon yang main-main. Adalah alasan tertentu mengapa Allah menyediakan imin-iming surga. Cak Nun menjabarkan bahwa keberadaan surga yang dijanjikan Allah agar manusia tidak kwehilangan harapan, agar manusia tidak putus asa dan menjadikan manusia tidak marah saling membantai karena tidak adanya harapan setelah hidup ini.

Bahkan lebih jauh lagi cara memaknai hidup adalah sebenarnya tidak mati. Selagi ada Allah kitapun abadi dan tidak akan mati. Ketika orang di dunia ini sedang dikatakan mati sebenarnya hanya raga kita yang rusak. Tetapi kita tetap hidup yaitu jiwa kita. Selagi ada Allah jiwa kita akan selalu hidup. Terlebih jauh yang samar tertangkap adalah dengan maraknya ribut tentang kepemimpinan negeri ini yang terbaru. Menyinggung soal para petinggi yang gemar melalukan 'Pencitraan'. Dikatakan Cak Nun bahwa pencitraan adalah soal merubah diri, dari yang aslinya merah jadi hijau, biru jadi abu-abu. Jadi pencitraan itu adalah sebagai bentuk pemalsuan agar kelihatannya lebih baik.

 ...

Terasa adem jika sudah menyangkut dunia Cak Nun. Bersama Kyai Kanjeng selalu bershalawat dan puji-pujian, memuji keagungan Allah seraya dengan hati yang merendah, menunduk dalam. Sekali lagi, jika sudah menyangkut 'empan mapan' yang dijalani dengan enak (enjoy) tetapi bukan berarti tidak berbuat apa-apa. segala sesuatu harus diperjuangkan dengan hati ikhlas. dan ketika kita sudah pada tataran tak mampu maka jalan satu-satunya adalah berserah diri (tawakkal) kepada Allah.

Melihat kenyataan sekarang, keberpihakan pada rakyat lkecil tanpa perlu digembar-gemborkan dalam slogan-slogan justru lebih mengena dan langsung merasuk pada inti esensi dari keberpihakan itu. Selagi masih banyak ketimpangan yang menyolok mata, maka patut dikemukakan bahwa seorang yang diharapkan bisa mengakomodasi secara nyata dan terus menerus (bukan temporal) tentu membutuhkan energi yang tidak sedikit. Tantangan yang dihadapi memang tidak ringan. Tetapi sejalan dengan yang dilakukan sekelas Cak Nun semua dapat dilalui dengan berbagai macam jalan yang tentu tidak mulus.

Pada setiap pertemuannya Cak Nun selalu memberi contoh-contoh sederhana tetapi selalu mengandung filosofi yang begitu mendal;am. Tentang kejadian-kejadian atau kudrat-iradat Allah yang menjadikan manusia menerima apa yang sudah diberikan yang disesuaikan dengan fungsinya sebagai sebab akibat yang akan ditimbulkannya.

Melihat kenyataan-kenyataan kontrdiktif terhadap sisi kehidupan yang sedang berlangsung juga tak luput dari perhatian Cak Nun. Contoh kecil soal rokok yang bagi Cak Nun adalah bentuk keteraniayaan karena mendapat perhatian yang lebih besar dalam publikasi tentang bahaya merokok dengan cara memasang gambar borok dengan maksud menakut-nakuti. Kemudian dengan tegas ditulis sebagai suatu yang sudah 'pasti' bahwa merokok dapat membunuh(mu). Hal ini sebagai suatu bentuk 'pengingkaran' kehendak Ilahi. Karena bagaimanapun juga merokok bukanlah satu-satunya penyebab kematian yang paling utama selama ini. Cak Nun memberi contoh dengan asap kenalpot kendaraan, pembakaran plastik dan asap-asap pabrik hampir dipastikan luput dari perhatian pembuat iklan anti rokok.

Lebih jauh lagi dapat diketahui arah Cak Nun dalam mengimplementasikan keteraniayaan rokok sebagai barang yang didzolimi dengan penempelan peringatan dari pemerintah. Tentu kita akan melihat bagaimana Allah menciptakan tembakau tidak dengan sia-sia. Begitu juga dengan yang lain-lainnya. Ini lebih dari sekedar membesar-besarkan sesuatu yang sebenarnya jika ditempatkan pada takarannya dan tidak berlebih-lebihan tidak akan menimbulkan dampak seperti yang dikhawatirkan selama ini.

Merokok bagi Cak Nun bisa meredam tindakan anarkis jika tidak merokok. Karena ini masalah gampang saja, saat kita sedang suntuk lalu menghisap rokok maka ada sesuatu yang bisa meredam keinginan yang sebenarnya bisa menimbulkan sesuatu yang bisa membahayakan. Ada yang sedikit terlupa dan hampir luput dari perhatian. Karena saat saya menyimak acara dari awal sampai selesai hanya mengandalkan ingatan dan tidak saya rekam pakai tablet yang saya bawa. Selain repot mending saya menikmati saja. Ini untuk menjajal kemampuan saya untuk menulis dalam pikiran seperti yang pernah diajarkan seseorang yang sangat saya kenal.

Saya jadi mempunyai kebebasan mengolah tulisan saya menurut apa yang saya tangkap di otak dan lebih original daripada ketika saya ambil secara utuh dari hasil rekaman. Artinya sambil menyelam minum air saya tampak betul menikmati dan terhibur ketika hati ini sedang sumpek. Apa yang tersaji dihadapaku melulu buat diriku sebagai bagian dari niat ngaji bareng Cak Nun dan tidak ada maksud untuk dituangkan dalam tulisan seperti ini.

Cak Nun memperkenalkan grup musiknya Kyai Kanjeng yang berkostum hitam-hitam yang berarti gelap. Secara filosofi mereka memang dituntut untuk tidak tahu menahu apa yang akan dimainkan (serba gelap). Mereka harus siap sedia jika ada permintaan untuk mengiring lagu yang sebelumnya juga tidak tahu menahu. Saat itulah mereka meraba-raba mencari nada yang pas. Dan secara kebetulan saat Cak Nun mengajak empat orang pengunjung untuk tampil ikut menyanyikan lagu apa yang bisa sangat terasa sekali kekompakan dan keselarasan nada dan suara yang dinyanyikan. Saya curiga, pengunjung ini sudah jauh hari sudah menyiapkan diri dari rumah, atau para pengunjung ini pada dasarnya berbakat menyanyi.

Ngaji Bareng Cak Nun seingat saya seperti identik dengan cara dakwah yang dilakukan oleh seorang wali yang bernama Sunan Kalijaga. Dakwah dengan menggunakan media yang ada sebagai piranti untuk menyampaikan pesan yang tidak monoton dan kaku. Selagi bukan menyangkut tata cara ibadah mahdhah (seperti yang dikatakan Cak Nun) maka media ini sangat membantu dalam upaya menyampaikan dengan sangat mengena dan benar-benar tertangkap apa yang sedang disampaikan.

Bumiayu, 041014

Rabu, Oktober 01, 2014

Senin, Januari 13, 2014

ANTARA DERMAGA DAN HALIMUN DI TENGAH DANGAU


seperti halimun membius, begitu halus, terkadang angin mendesis
menyapa di keremangan pagi dingin, terbetik hasrat sesaat
seraya ada kehangatan menyeruak, kuak segala perih
pada sapaan khas menukik lalu hunjam ulu hati


kala itu embun selalu merontok karena gigil, memanggil
bahtera menepi, menepis sepi, sibak ombak kecil di pinggir telaga
dermaga di sisi lain, tempat kutambat temali biduk, berhamburanlah
peluk di sisi mimpi yang muskil, atau justru terlalu mudah memaknai


tapi kemudian meragu, di pundak memanggul jaring-jaring, ikan-ikan
menggelepar dengan topi caping kumalku menatap kosong
lalu halimun merepih seperti 'bisa' meracuni pandangan mataku
atau membutakan hakikat dari penantian semu, semau pinta


kusapa penghilang nestapa kupuji penguak jeruji, adakalanya
berhambur tabur bunga setaman, mewangi di dinding-dinding karang
berlukiskan mural roman purba, kekal di setiap gerbang, bimbang
menatap pandang yang menyirat firasat keberlaluan waktu


setiap yang mencuat berat untuk melepas, ada semacam kekuatan
magnit yang menarik untuk bertahan, lalu terikat tali berpendulum
aku terlumat saat panggilan menyayat-nyayat, seolah hanya diriku
tempat bertumpu, sementara kehangatan tungku kian meredup


lantas-- sapaan khas itu terngiang lagi, tetapi bukan memanggilku
terheranlah dalam tawa masam, tubuh ini seperti tertikam resam
camarpun terluka sayapnya oleh tikam kata-kata, bulu-bulunya remah
terkapar di sela karang yang mencuat tajamnya, diantara lokan dan ikan, 


.. sekali lagi terdengar sapaan, sekali lagi aku mencuri dengar, mungkin
aku sekedar menghibur dengan menipu diri, tapi kemudian tersadar
kini di depanku hanya padang sunyi, halimun pekat selimuti embun
seperti dinding kedap segala mimpi, aku kehilangan sebagian ingat


padang gersang tempat tertambat biduk, dermaga di sisi lain
ikan-ikan terkapar dan mengering oleh sengatan mentari di ubun-ubun
embun hangus tak berbekas, tiada lengas, semakin sunyi,
sapaan lama tak terdengar lagi, atau aku sudah membuta-tulikan hati


ingin bukan sekedar beringsut, tetapi mungkin berlayar sejauh mungkin mencari pulau tambatkan segala penat, membangun dangau bersahaja sambil menanam budi, tumbuhkan tunas-tunas penuh wajah cinta sementara aku berbaring di tepian dangau dengan damai, sesekali kupu-kupu hinggap di ujung hidungku yang sedang mengalirkan hawa magis dari sela-sela rembulan dan bintang yang bertengger di antara ranting-ranting.


Bumiayu, 161213

Majas Hujan

hujan menjadi akrab ketika rinai tenggelam dalam baitbait
setiap majas yang menyertainya selalu mengandung makna air
apalagi sedang musim basah, bukan resah jika karena air bah
semoga tidak menjadi hujan air mata dalam tangis terbatabata

lalu udara yang lengas, dingin dan sesekali tempias oleh embun
berhamburan dan membetuk butirbutir bening kristal
para penyair melukiskan dalam kanvas maya berbingkai musikalitas
berirama bercak kecipak kakikaki mungil di kubangan kecil halaman rumah

Bumiayu, 130114

Rasa Syukur

Kita sering terlalu peka apabila dalam lapar dan tak punya uang suka ngiler ketika lewat di depan warung bakso, warung makan sea food atau warung sate yang sedang ramai pengunjungnya. Ada banyak deretan mobil yang para majikannya sedang menikmati hidangan di dalamnya. Asap pembakaran sate yang tak sengaja tercium selalu menambah rasa lapar. Kita lantas hanya bisa menelan ludah dalam-dalam. Lantas hanya bisa membayangkan, kapan kita bisa menikmati hidangan seperti itu?

Ada banyak nasib kurang beruntung ini sebagai cerminan bagi kita saat sedang dirundung kesusahan. Maka bertebaran hikmah yang ternyata akan menjadikan hidup ini bernilai, bukan lantaran kita berkecukupan. Tetapi kita bisa banyak belajar bagaimana mensyukuri suatu nikmat yang sudah kita rasakan.

Bagi yang nasibnya kurang beruntung, mereka menjalani hidup dengan kadar keikhlasan sebagaimana mereka menerima nasib ini dengan lapang dada. Bagi mereka hidup ini sudah terbiasa kekurangan. Toh mereka akan menghibur diri, ya mau apa lagi? Memang kenyataannya demikian. Mereka ikhlas bekerja keras dengan hanya mengandalkan kerja kasar (kerja yang mengandalkan lebih banyak fisik). Sebenarnya tidak, dalam tataran sebagai pekerja mereka juga menggunakan otak untuk pekerjaan yang membutuhkan keahlian tertentu. Yang jika tidak menguasai skill tertentu belum tentu orang yang mampu secara otakpun dapat menguasainya. Hanya saja soal nasib keberuntungan belum melekat sebagai bentuk keberuntungan itu sendiri.

Ini mneyangkut naik turunnya derajat nasib dan takdir manusia. Adakalanya suatu saat berada di atas, lalu tiba-tiba jatuh pada tataran tingkat yang paling bawah. Kita masing-masing mempunyai perputaran nasib atau mempunyai lingkaran dalam berbagai pola, besarannya dan kecepatan waktu yang dialaminya. Sehingga kita akan menjumpai perputarannya dengan percepatan yang berbeda-beda, sehingga kita tidak akan mengetahui lingkaran takdir seseorang.

Kembali lagi, kita akan merasakan apa yang mereka alami. Atau sedang benar-benar mengalaminya. Maka kita akan dihimbau untuk meneladani dari segi kesikapan sebagaimana adanya mereka. Lantas jika sudah demikian kita akan tetap merasakan dan selalu bersyukur atas semuanya. Kita lantas akan disuruh membanding-bandingkan diri kita dengan orang yang lebih berkekuarangan dari kita. Pasti ada.

Jadi rasa syukur dan selalu melihat dan merasakan sesuatu yang harus disyukurilah yang akan mengantarkan mereka pada gerbang kedamaian dan ketentraman batin. Bersyukur itu tidak suka cepat mengeluh, semua dibicarakan dalam rangka mencari solusi dan tidak saling menyalahkan sesama saudara, famili, suami istri dan sesama sahabat. Dan marilah kita selalu bersyukur, baik saat susah maupun senang.


Bumiayu, 120114