Menarik sekali ketika kesampaian 'nonton' Cak Nun di Bumiayu. Teringat tulisan sahabat saya di facebook yang mengulas Cak Nun dengan segala sepak terjangnya. Dan ternyata adalah sosok yang selalu merendah dan tidak menunjukkan siapa dirinya dan sebagai apa. Sedang pada tataran nasional dan internasional saja sudah mafhum siapa sebenanrnya Can Nun (Emha Ainun Najib).Dalam rangka Ngaji Bareng Cak Nun yang diselenggarakan oleh perusahaan perbankkan milik pemerintah dalamPesta Rakyat Simpedes saya dalam pikiran sempit sempat terlitas pikiran, kenapa Cak Nun mau diundang oleh perusahaan bank yang nota bene kental dengan riba, sedang Cak Nun itu sendiri sedang memberikan wejangan yang berlabel agama yang sudah jelas melarang riba.
Saya sempat tersentak oleh pikiran sempitku dan merasa malu dengan wawasan picik yang sebenarnya adalah Maha Luas Ilmu Allah itu yang tak akan mampu jika hanya dijabarkan hanya dengan ilmu saklek (taklid). Terlebih lagi tataran itu sudah termaktub dalam penjabaran yang sangat menyentuh dari semua yang telah mengemuka. Kali ini Cak Nun yang dalam kesahajaannya justru merupakan monumen hidup yang tersisa sejak bapak-bapak bangsa yang lain sudah mendahuluinya.
Cak Nun adalah yang menemani mantan Presiden Suharto lengser keprabon saat yang lain hengkang tak peduli. Cak Nun lah yang membimbing Suharto lengser dan madeg pandito hingga membimbing sampai akhir hayatnya. Sehingga Suharto merasa nyaman ketika dengan legawa menirukan ucapan 'guru'nya saat pidato pelengserannya, "Ora dadi presiden ora patheken" Pun ketika Cak Nun mampu menyentuh istri boss Lapindo bukan hanya untuk sekedar menyantuni, tetapi sudah menyentuh pada dimensi yang lebih dari sekedar urusan duniawi. .
"Empan papan", diungkapkan berulang kali ketika semua persoalan itu harus diletakkan pada tempatnya. Hidup itu jika sudah diletakkan pada tempatnya yang semestinya maka akan terasa nikmat, sekalipun begitu semua harus diperjuangkan. Ya berjuang dengan landasan ikhlas dan menakar pada kemampuan masing-masing. Dan ketika ada yang tidak mampu dipikul maka ada opsi yang sangat menjurus pada kesadaran manusia yang paling fitrah, paling arif, yaitu dikembalikan kepada ketentuan Allah lewat jalan tawakkal.
Dimensi keilahian di sini dijabarkan dihadapan para pengunjung yang sebagian besar adalah masyarakat awam wilayah Bumiayu dan sekitarnya yang tinggal di desa-desa. Namun penjabaran Cak Nun mampu mereka tangkap ketika tak menyadari jika Cak Nun adalah tokoh yang selalu muncul di setiap ada pagebluk kepemimpinan di pusat negara Indonesia yang tercinta ini.
Cak Nun yang rendah hati yang menyadari dirinya tidak pernah meningkat statusnya dari waktu ke waktu, yang mau dan sukarela berkeliling untuk 'ngamen' dengan Kyai Kanjengnya, sengaja meninggalkan dunia glamour gemerlapnya Istana Negara dengan segala 'kepongahan'nya. Cak Nun lebih memilih menepi dan mengayomi rakyat dengan mendatangi mereka hampir di setiap plosok seluruh Indonesia (bukan blusukan lho ya) . Melihat kenyataan hidup ayng dikupas Cak Nun, soal surga bukanlah sebagai jargon yang main-main. Adalah alasan tertentu mengapa Allah menyediakan imin-iming surga. Cak Nun menjabarkan bahwa keberadaan surga yang dijanjikan Allah agar manusia tidak kwehilangan harapan, agar manusia tidak putus asa dan menjadikan manusia tidak marah saling membantai karena tidak adanya harapan setelah hidup ini.
Bahkan lebih jauh lagi cara memaknai hidup adalah sebenarnya tidak mati. Selagi ada Allah kitapun abadi dan tidak akan mati. Ketika orang di dunia ini sedang dikatakan mati sebenarnya hanya raga kita yang rusak. Tetapi kita tetap hidup yaitu jiwa kita. Selagi ada Allah jiwa kita akan selalu hidup. Terlebih jauh yang samar tertangkap adalah dengan maraknya ribut tentang kepemimpinan negeri ini yang terbaru. Menyinggung soal para petinggi yang gemar melalukan 'Pencitraan'. Dikatakan Cak Nun bahwa pencitraan adalah soal merubah diri, dari yang aslinya merah jadi hijau, biru jadi abu-abu. Jadi pencitraan itu adalah sebagai bentuk pemalsuan agar kelihatannya lebih baik.
...
Terasa adem jika sudah menyangkut dunia Cak Nun. Bersama Kyai Kanjeng selalu bershalawat dan puji-pujian, memuji keagungan Allah seraya dengan hati yang merendah, menunduk dalam. Sekali lagi, jika sudah menyangkut 'empan mapan' yang dijalani dengan enak (enjoy) tetapi bukan berarti tidak berbuat apa-apa. segala sesuatu harus diperjuangkan dengan hati ikhlas. dan ketika kita sudah pada tataran tak mampu maka jalan satu-satunya adalah berserah diri (tawakkal) kepada Allah.
Melihat kenyataan sekarang, keberpihakan pada rakyat lkecil tanpa perlu digembar-gemborkan dalam slogan-slogan justru lebih mengena dan langsung merasuk pada inti esensi dari keberpihakan itu. Selagi masih banyak ketimpangan yang menyolok mata, maka patut dikemukakan bahwa seorang yang diharapkan bisa mengakomodasi secara nyata dan terus menerus (bukan temporal) tentu membutuhkan energi yang tidak sedikit. Tantangan yang dihadapi memang tidak ringan. Tetapi sejalan dengan yang dilakukan sekelas Cak Nun semua dapat dilalui dengan berbagai macam jalan yang tentu tidak mulus.
Pada setiap pertemuannya Cak Nun selalu memberi contoh-contoh sederhana tetapi selalu mengandung filosofi yang begitu mendal;am. Tentang kejadian-kejadian atau kudrat-iradat Allah yang menjadikan manusia menerima apa yang sudah diberikan yang disesuaikan dengan fungsinya sebagai sebab akibat yang akan ditimbulkannya.
Melihat kenyataan-kenyataan kontrdiktif terhadap sisi kehidupan yang sedang berlangsung juga tak luput dari perhatian Cak Nun. Contoh kecil soal rokok yang bagi Cak Nun adalah bentuk keteraniayaan karena mendapat perhatian yang lebih besar dalam publikasi tentang bahaya merokok dengan cara memasang gambar borok dengan maksud menakut-nakuti. Kemudian dengan tegas ditulis sebagai suatu yang sudah 'pasti' bahwa merokok dapat membunuh(mu). Hal ini sebagai suatu bentuk 'pengingkaran' kehendak Ilahi. Karena bagaimanapun juga merokok bukanlah satu-satunya penyebab kematian yang paling utama selama ini. Cak Nun memberi contoh dengan asap kenalpot kendaraan, pembakaran plastik dan asap-asap pabrik hampir dipastikan luput dari perhatian pembuat iklan anti rokok.
Lebih jauh lagi dapat diketahui arah Cak Nun dalam mengimplementasikan keteraniayaan rokok sebagai barang yang didzolimi dengan penempelan peringatan dari pemerintah. Tentu kita akan melihat bagaimana Allah menciptakan tembakau tidak dengan sia-sia. Begitu juga dengan yang lain-lainnya. Ini lebih dari sekedar membesar-besarkan sesuatu yang sebenarnya jika ditempatkan pada takarannya dan tidak berlebih-lebihan tidak akan menimbulkan dampak seperti yang dikhawatirkan selama ini.
Merokok bagi Cak Nun bisa meredam tindakan anarkis jika tidak merokok. Karena ini masalah gampang saja, saat kita sedang suntuk lalu menghisap rokok maka ada sesuatu yang bisa meredam keinginan yang sebenarnya bisa menimbulkan sesuatu yang bisa membahayakan. Ada yang sedikit terlupa dan hampir luput dari perhatian. Karena saat saya menyimak acara dari awal sampai selesai hanya mengandalkan ingatan dan tidak saya rekam pakai tablet yang saya bawa. Selain repot mending saya menikmati saja. Ini untuk menjajal kemampuan saya untuk menulis dalam pikiran seperti yang pernah diajarkan seseorang yang sangat saya kenal.
Saya jadi mempunyai kebebasan mengolah tulisan saya menurut apa yang saya tangkap di otak dan lebih original daripada ketika saya ambil secara utuh dari hasil rekaman. Artinya sambil menyelam minum air saya tampak betul menikmati dan terhibur ketika hati ini sedang sumpek. Apa yang tersaji dihadapaku melulu buat diriku sebagai bagian dari niat ngaji bareng Cak Nun dan tidak ada maksud untuk dituangkan dalam tulisan seperti ini.
Cak Nun memperkenalkan grup musiknya Kyai Kanjeng yang berkostum hitam-hitam yang berarti gelap. Secara filosofi mereka memang dituntut untuk tidak tahu menahu apa yang akan dimainkan (serba gelap). Mereka harus siap sedia jika ada permintaan untuk mengiring lagu yang sebelumnya juga tidak tahu menahu. Saat itulah mereka meraba-raba mencari nada yang pas. Dan secara kebetulan saat Cak Nun mengajak empat orang pengunjung untuk tampil ikut menyanyikan lagu apa yang bisa sangat terasa sekali kekompakan dan keselarasan nada dan suara yang dinyanyikan. Saya curiga, pengunjung ini sudah jauh hari sudah menyiapkan diri dari rumah, atau para pengunjung ini pada dasarnya berbakat menyanyi.
Ngaji Bareng Cak Nun seingat saya seperti identik dengan cara dakwah yang dilakukan oleh seorang wali yang bernama Sunan Kalijaga. Dakwah dengan menggunakan media yang ada sebagai piranti untuk menyampaikan pesan yang tidak monoton dan kaku. Selagi bukan menyangkut tata cara ibadah mahdhah (seperti yang dikatakan Cak Nun) maka media ini sangat membantu dalam upaya menyampaikan dengan sangat mengena dan benar-benar tertangkap apa yang sedang disampaikan.
Bumiayu, 041014
Time in Semarang