seperti halimun membius, begitu halus, terkadang angin mendesis
menyapa di keremangan pagi dingin, terbetik hasrat sesaat
seraya ada kehangatan menyeruak, kuak segala perih
pada sapaan khas menukik lalu hunjam ulu hati
kala itu embun selalu merontok karena gigil, memanggil
bahtera menepi, menepis sepi, sibak ombak kecil di pinggir telaga
dermaga di sisi lain, tempat kutambat temali biduk, berhamburanlah
peluk di sisi mimpi yang muskil, atau justru terlalu mudah memaknai
tapi kemudian meragu, di pundak memanggul jaring-jaring, ikan-ikan
menggelepar dengan topi caping kumalku menatap kosong
lalu halimun merepih seperti 'bisa' meracuni pandangan mataku
atau membutakan hakikat dari penantian semu, semau pinta
kusapa penghilang nestapa kupuji penguak jeruji, adakalanya
berhambur tabur bunga setaman, mewangi di dinding-dinding karang
berlukiskan mural roman purba, kekal di setiap gerbang, bimbang
menatap pandang yang menyirat firasat keberlaluan waktu
setiap yang mencuat berat untuk melepas, ada semacam kekuatan
magnit yang menarik untuk bertahan, lalu terikat tali berpendulum
aku terlumat saat panggilan menyayat-nyayat, seolah hanya diriku
tempat bertumpu, sementara kehangatan tungku kian meredup
lantas-- sapaan khas itu terngiang lagi, tetapi bukan memanggilku
terheranlah dalam tawa masam, tubuh ini seperti tertikam resam
camarpun terluka sayapnya oleh tikam kata-kata, bulu-bulunya remah
terkapar di sela karang yang mencuat tajamnya, diantara lokan dan ikan,
.. sekali lagi terdengar sapaan, sekali lagi aku mencuri dengar, mungkin
aku sekedar menghibur dengan menipu diri, tapi kemudian tersadar
kini di depanku hanya padang sunyi, halimun pekat selimuti embun
seperti dinding kedap segala mimpi, aku kehilangan sebagian ingat
padang gersang tempat tertambat biduk, dermaga di sisi lain
ikan-ikan terkapar dan mengering oleh sengatan mentari di ubun-ubun
embun hangus tak berbekas, tiada lengas, semakin sunyi,
sapaan lama tak terdengar lagi, atau aku sudah membuta-tulikan hati
ingin bukan sekedar beringsut, tetapi mungkin berlayar sejauh mungkin mencari pulau tambatkan segala penat, membangun dangau bersahaja sambil menanam budi, tumbuhkan tunas-tunas penuh wajah cinta sementara aku berbaring di tepian dangau dengan damai, sesekali kupu-kupu hinggap di ujung hidungku yang sedang mengalirkan hawa magis dari sela-sela rembulan dan bintang yang bertengger di antara ranting-ranting.
Bumiayu, 161213
menyapa di keremangan pagi dingin, terbetik hasrat sesaat
seraya ada kehangatan menyeruak, kuak segala perih
pada sapaan khas menukik lalu hunjam ulu hati
kala itu embun selalu merontok karena gigil, memanggil
bahtera menepi, menepis sepi, sibak ombak kecil di pinggir telaga
dermaga di sisi lain, tempat kutambat temali biduk, berhamburanlah
peluk di sisi mimpi yang muskil, atau justru terlalu mudah memaknai
tapi kemudian meragu, di pundak memanggul jaring-jaring, ikan-ikan
menggelepar dengan topi caping kumalku menatap kosong
lalu halimun merepih seperti 'bisa' meracuni pandangan mataku
atau membutakan hakikat dari penantian semu, semau pinta
kusapa penghilang nestapa kupuji penguak jeruji, adakalanya
berhambur tabur bunga setaman, mewangi di dinding-dinding karang
berlukiskan mural roman purba, kekal di setiap gerbang, bimbang
menatap pandang yang menyirat firasat keberlaluan waktu
setiap yang mencuat berat untuk melepas, ada semacam kekuatan
magnit yang menarik untuk bertahan, lalu terikat tali berpendulum
aku terlumat saat panggilan menyayat-nyayat, seolah hanya diriku
tempat bertumpu, sementara kehangatan tungku kian meredup
lantas-- sapaan khas itu terngiang lagi, tetapi bukan memanggilku
terheranlah dalam tawa masam, tubuh ini seperti tertikam resam
camarpun terluka sayapnya oleh tikam kata-kata, bulu-bulunya remah
terkapar di sela karang yang mencuat tajamnya, diantara lokan dan ikan,
.. sekali lagi terdengar sapaan, sekali lagi aku mencuri dengar, mungkin
aku sekedar menghibur dengan menipu diri, tapi kemudian tersadar
kini di depanku hanya padang sunyi, halimun pekat selimuti embun
seperti dinding kedap segala mimpi, aku kehilangan sebagian ingat
padang gersang tempat tertambat biduk, dermaga di sisi lain
ikan-ikan terkapar dan mengering oleh sengatan mentari di ubun-ubun
embun hangus tak berbekas, tiada lengas, semakin sunyi,
sapaan lama tak terdengar lagi, atau aku sudah membuta-tulikan hati
ingin bukan sekedar beringsut, tetapi mungkin berlayar sejauh mungkin mencari pulau tambatkan segala penat, membangun dangau bersahaja sambil menanam budi, tumbuhkan tunas-tunas penuh wajah cinta sementara aku berbaring di tepian dangau dengan damai, sesekali kupu-kupu hinggap di ujung hidungku yang sedang mengalirkan hawa magis dari sela-sela rembulan dan bintang yang bertengger di antara ranting-ranting.
Bumiayu, 161213