Senin, Januari 13, 2014

ANTARA DERMAGA DAN HALIMUN DI TENGAH DANGAU


seperti halimun membius, begitu halus, terkadang angin mendesis
menyapa di keremangan pagi dingin, terbetik hasrat sesaat
seraya ada kehangatan menyeruak, kuak segala perih
pada sapaan khas menukik lalu hunjam ulu hati


kala itu embun selalu merontok karena gigil, memanggil
bahtera menepi, menepis sepi, sibak ombak kecil di pinggir telaga
dermaga di sisi lain, tempat kutambat temali biduk, berhamburanlah
peluk di sisi mimpi yang muskil, atau justru terlalu mudah memaknai


tapi kemudian meragu, di pundak memanggul jaring-jaring, ikan-ikan
menggelepar dengan topi caping kumalku menatap kosong
lalu halimun merepih seperti 'bisa' meracuni pandangan mataku
atau membutakan hakikat dari penantian semu, semau pinta


kusapa penghilang nestapa kupuji penguak jeruji, adakalanya
berhambur tabur bunga setaman, mewangi di dinding-dinding karang
berlukiskan mural roman purba, kekal di setiap gerbang, bimbang
menatap pandang yang menyirat firasat keberlaluan waktu


setiap yang mencuat berat untuk melepas, ada semacam kekuatan
magnit yang menarik untuk bertahan, lalu terikat tali berpendulum
aku terlumat saat panggilan menyayat-nyayat, seolah hanya diriku
tempat bertumpu, sementara kehangatan tungku kian meredup


lantas-- sapaan khas itu terngiang lagi, tetapi bukan memanggilku
terheranlah dalam tawa masam, tubuh ini seperti tertikam resam
camarpun terluka sayapnya oleh tikam kata-kata, bulu-bulunya remah
terkapar di sela karang yang mencuat tajamnya, diantara lokan dan ikan, 


.. sekali lagi terdengar sapaan, sekali lagi aku mencuri dengar, mungkin
aku sekedar menghibur dengan menipu diri, tapi kemudian tersadar
kini di depanku hanya padang sunyi, halimun pekat selimuti embun
seperti dinding kedap segala mimpi, aku kehilangan sebagian ingat


padang gersang tempat tertambat biduk, dermaga di sisi lain
ikan-ikan terkapar dan mengering oleh sengatan mentari di ubun-ubun
embun hangus tak berbekas, tiada lengas, semakin sunyi,
sapaan lama tak terdengar lagi, atau aku sudah membuta-tulikan hati


ingin bukan sekedar beringsut, tetapi mungkin berlayar sejauh mungkin mencari pulau tambatkan segala penat, membangun dangau bersahaja sambil menanam budi, tumbuhkan tunas-tunas penuh wajah cinta sementara aku berbaring di tepian dangau dengan damai, sesekali kupu-kupu hinggap di ujung hidungku yang sedang mengalirkan hawa magis dari sela-sela rembulan dan bintang yang bertengger di antara ranting-ranting.


Bumiayu, 161213

Majas Hujan

hujan menjadi akrab ketika rinai tenggelam dalam baitbait
setiap majas yang menyertainya selalu mengandung makna air
apalagi sedang musim basah, bukan resah jika karena air bah
semoga tidak menjadi hujan air mata dalam tangis terbatabata

lalu udara yang lengas, dingin dan sesekali tempias oleh embun
berhamburan dan membetuk butirbutir bening kristal
para penyair melukiskan dalam kanvas maya berbingkai musikalitas
berirama bercak kecipak kakikaki mungil di kubangan kecil halaman rumah

Bumiayu, 130114

Rasa Syukur

Kita sering terlalu peka apabila dalam lapar dan tak punya uang suka ngiler ketika lewat di depan warung bakso, warung makan sea food atau warung sate yang sedang ramai pengunjungnya. Ada banyak deretan mobil yang para majikannya sedang menikmati hidangan di dalamnya. Asap pembakaran sate yang tak sengaja tercium selalu menambah rasa lapar. Kita lantas hanya bisa menelan ludah dalam-dalam. Lantas hanya bisa membayangkan, kapan kita bisa menikmati hidangan seperti itu?

Ada banyak nasib kurang beruntung ini sebagai cerminan bagi kita saat sedang dirundung kesusahan. Maka bertebaran hikmah yang ternyata akan menjadikan hidup ini bernilai, bukan lantaran kita berkecukupan. Tetapi kita bisa banyak belajar bagaimana mensyukuri suatu nikmat yang sudah kita rasakan.

Bagi yang nasibnya kurang beruntung, mereka menjalani hidup dengan kadar keikhlasan sebagaimana mereka menerima nasib ini dengan lapang dada. Bagi mereka hidup ini sudah terbiasa kekurangan. Toh mereka akan menghibur diri, ya mau apa lagi? Memang kenyataannya demikian. Mereka ikhlas bekerja keras dengan hanya mengandalkan kerja kasar (kerja yang mengandalkan lebih banyak fisik). Sebenarnya tidak, dalam tataran sebagai pekerja mereka juga menggunakan otak untuk pekerjaan yang membutuhkan keahlian tertentu. Yang jika tidak menguasai skill tertentu belum tentu orang yang mampu secara otakpun dapat menguasainya. Hanya saja soal nasib keberuntungan belum melekat sebagai bentuk keberuntungan itu sendiri.

Ini mneyangkut naik turunnya derajat nasib dan takdir manusia. Adakalanya suatu saat berada di atas, lalu tiba-tiba jatuh pada tataran tingkat yang paling bawah. Kita masing-masing mempunyai perputaran nasib atau mempunyai lingkaran dalam berbagai pola, besarannya dan kecepatan waktu yang dialaminya. Sehingga kita akan menjumpai perputarannya dengan percepatan yang berbeda-beda, sehingga kita tidak akan mengetahui lingkaran takdir seseorang.

Kembali lagi, kita akan merasakan apa yang mereka alami. Atau sedang benar-benar mengalaminya. Maka kita akan dihimbau untuk meneladani dari segi kesikapan sebagaimana adanya mereka. Lantas jika sudah demikian kita akan tetap merasakan dan selalu bersyukur atas semuanya. Kita lantas akan disuruh membanding-bandingkan diri kita dengan orang yang lebih berkekuarangan dari kita. Pasti ada.

Jadi rasa syukur dan selalu melihat dan merasakan sesuatu yang harus disyukurilah yang akan mengantarkan mereka pada gerbang kedamaian dan ketentraman batin. Bersyukur itu tidak suka cepat mengeluh, semua dibicarakan dalam rangka mencari solusi dan tidak saling menyalahkan sesama saudara, famili, suami istri dan sesama sahabat. Dan marilah kita selalu bersyukur, baik saat susah maupun senang.


Bumiayu, 120114