May 22 454am
Gundah;
dalam keterpurukanku mencoba mengurai kisi2 kusam;
ketika dehadapkan pada angan yang terganjal;
penat . . .sekali;
Ya Allah kapan kau hadirkan solusiMu;
aku sedang meluncur menuju ambang titik nadir;
seberapapun rasa optimisku hanya manusia lemah dihadapMu;
seberapa dalam baik sangkaku dihadapMu;
kapanpun waktunya Kau menjamu hambaMu yang penuh jelaga ini;
Awal dari keberhasilan seseorang dimulai dari keinginan yang kuat untuk berjuang. Di samping kondisi untuk berperan aktif yang disertai kerja keras, kemauan dan dorongan dari diri sendiri. kondisi tersebut harus berjalan sebagaimana kita hidup dalam kancah pergulatan yang terus menerus tanpa henti.
Rabu, Desember 30, 2009
Kerontang
Jun 15 1025pm
Musim sedang beralih kmarau;
ilalang mulai meranggas kecoklatan kehausan;
benarkah pijakkanku telah melampaui batas ranah?;
sedangkan aku seperti pencuri yang masuk tanpa permisi?;
aku bola yang mnggelinding tak terkendali;
kemana arah kan kuturut;
di ilalang yang meranggas sekalipun;
bulir2 keringat telah lama melengas;
mencari pijakan2 sbg tumpuan;
sumber: bobjunovic.mygamma.com
Musim sedang beralih kmarau;
ilalang mulai meranggas kecoklatan kehausan;
benarkah pijakkanku telah melampaui batas ranah?;
sedangkan aku seperti pencuri yang masuk tanpa permisi?;
aku bola yang mnggelinding tak terkendali;
kemana arah kan kuturut;
di ilalang yang meranggas sekalipun;
bulir2 keringat telah lama melengas;
mencari pijakan2 sbg tumpuan;
sumber: bobjunovic.mygamma.com
Yang Terakhir?
Jun 17 949pm
Hujan ini barangkali yg terakhir kali;
mungkin jg tidak;
air telah mnggenang ceruk2 krontang;
kemana lg brsijingkat berlari di atas genangan riak2 kehidupan?;
sementara sejengkalpun terasa perih untuk ayunkan langkah;
adakah ketenangan itu sekedar mampir melipur kepiluan;
karena, jiwa tenang itu ketegaran dan tekad yg kuat;
kerinduan akan tenang membuncah tatkala datang dalam mimpi penuh kedamaian;
aku jadi ragu?, atau cuma menguji;
atau rasa malas gelagat dari kepincangan pola pikir melenceng;
seharusnya logika atau imbal balik fakta?
Hujan ini barangkali yg terakhir kali;
mungkin jg tidak;
air telah mnggenang ceruk2 krontang;
kemana lg brsijingkat berlari di atas genangan riak2 kehidupan?;
sementara sejengkalpun terasa perih untuk ayunkan langkah;
adakah ketenangan itu sekedar mampir melipur kepiluan;
karena, jiwa tenang itu ketegaran dan tekad yg kuat;
kerinduan akan tenang membuncah tatkala datang dalam mimpi penuh kedamaian;
aku jadi ragu?, atau cuma menguji;
atau rasa malas gelagat dari kepincangan pola pikir melenceng;
seharusnya logika atau imbal balik fakta?
Perjalanan
Jun 27 256pm
Kilas balik isra' mi'raj.
Kilas balik isra' mi'raj.
Kabar apakah yg kaubawa wahai Muhammad?
Di penghujung perjalananmu yg melelahkan dan sarat amanah;
ktika kaubrangkatpun tersucikan dari daki2 dunia;
lalu terbasuh air zam2 yg diberkahi;
siapakah mereka para pengiringmu ya Muhammad?;
terendus hawa surga yg wangi mluluh lantakkan sendi2 rapuhku;
tiba2 kau mlesat ke arah timur laut, arah al aqsha;
kutlusuri sambil terseok2 jejakmu yg mulai lenyap;
ktika jumpa di al aqsha tak trbayang kau mlesat naik di ubun2 langit 7
Merah Merona
Jun 21 329pm
Kmarau dhatiku keringkan tanah brpijakku; mrekah mnganga timbulkan palung2 kecil; pohon yg kutanam lama kering; bekas pijakankupun tlah mngeras; ciptakan pola pola yg aneh; debu2 mnghablurkan jarak pandangku kian terpental; kmana lagi dahaga ini terbius kristal2 air?; smentara pagipun meradang merah dlm bara yg melepuh; angin kering tlah mngikis kisi2 tebing terjal; menggerus dalam sampai inti hati merah maronku; hati yg tlah sarat segala tumpahan; hati yg slalu bopeng dan kmudian utuh lagi
Kmarau dhatiku keringkan tanah brpijakku; mrekah mnganga timbulkan palung2 kecil; pohon yg kutanam lama kering; bekas pijakankupun tlah mngeras; ciptakan pola pola yg aneh; debu2 mnghablurkan jarak pandangku kian terpental; kmana lagi dahaga ini terbius kristal2 air?; smentara pagipun meradang merah dlm bara yg melepuh; angin kering tlah mngikis kisi2 tebing terjal; menggerus dalam sampai inti hati merah maronku; hati yg tlah sarat segala tumpahan; hati yg slalu bopeng dan kmudian utuh lagi
Senin, Desember 28, 2009
Senyap . . . .
Bagikan
09 September 2009 jam 1:37 | Sunting Catatan | Hapus
Diunggah melalui Facebook Seluler
Dini hari yg beku
desir yg mengigilkan
hanya detak jam dinding
aku trjaga di antara batas maya dan nyata
hati ini limbung dlm kpenatan yg amat sangat
kmana arah mata angin yg dulu mnuntun jalanku?
Dlm gelap aku trseok
mngais sisa sampah kmarin sore
mimpi indahpun hambar
senyap ini mnjerat sbongkah hati yg mngerut
dingin dan mngeras
tanpa kata kata
Bagikan
09 September 2009 jam 1:37 | Sunting Catatan | Hapus
Diunggah melalui Facebook Seluler
Dini hari yg beku
desir yg mengigilkan
hanya detak jam dinding
aku trjaga di antara batas maya dan nyata
hati ini limbung dlm kpenatan yg amat sangat
kmana arah mata angin yg dulu mnuntun jalanku?
Dlm gelap aku trseok
mngais sisa sampah kmarin sore
mimpi indahpun hambar
senyap ini mnjerat sbongkah hati yg mngerut
dingin dan mngeras
tanpa kata kata
Sisi lain
Bagikan
03 September 2009 jam 23:26 | Sunting Catatan | Hapus
Diunggah melalui Facebook Seluler
Mnurut ukuranku aku sdh smpai dpenghujung kmampuanku
tapi Allah msh mngujiku dgn cobaan yg bruntun
ukuran ALLAH mmang sgt tak ter jangkau oleh aku
sampai Allah ttap mngujiku dgn cobaanNya
bsa jg hukuman yg ditimpakan padaku
krna ksalahanku, dosaku sdh mndarah daging
YA ALLAH aku pasrah kpadaMu . . .
Bagikan
03 September 2009 jam 23:26 | Sunting Catatan | Hapus
Diunggah melalui Facebook Seluler
Mnurut ukuranku aku sdh smpai dpenghujung kmampuanku
tapi Allah msh mngujiku dgn cobaan yg bruntun
ukuran ALLAH mmang sgt tak ter jangkau oleh aku
sampai Allah ttap mngujiku dgn cobaanNya
bsa jg hukuman yg ditimpakan padaku
krna ksalahanku, dosaku sdh mndarah daging
YA ALLAH aku pasrah kpadaMu . . .
Sampai kapan?
Bagikan
04 September 2009 jam 20:53 | Sunting Catatan | Hapus
Diunggah melalui Facebook Seluler
Aku trkjut oleh jatuhnya seekor cicak
sktika ekornya putus
mnggelepar ksana kmari dg pangkalnya yg mmerah
tiba2 seekor kucing buduk dg sigap mnerkam ekor cicak dan mngunyah dg lahapnya
ada bau anyir dari mulut kucing habis menelan seekor tikus
aku trksiap dan tertegun sesaat mnahan rasa yg aneh
yg mnjalar dbalik sum2 tulang blakangku
menderu porak porandakan persendianku
mata nanar mnatap kucing yg ktakutan amat sangat
saat itu jg lewat di dpn mataku byang2 masa pencarianku yg trkatung2
pd sisi glapku amat mndera rasa khilangan yg brulang dlm kurun trpasung
mencari jati diri brgeming mnatap rembulan bolong
kucing buduk mnggigil mnahan nyeri
cma ada sgenggam asa yg lusuh
trgletak di sudut almari usang
senyap . . . .
Bagikan
04 September 2009 jam 20:53 | Sunting Catatan | Hapus
Diunggah melalui Facebook Seluler
Aku trkjut oleh jatuhnya seekor cicak
sktika ekornya putus
mnggelepar ksana kmari dg pangkalnya yg mmerah
tiba2 seekor kucing buduk dg sigap mnerkam ekor cicak dan mngunyah dg lahapnya
ada bau anyir dari mulut kucing habis menelan seekor tikus
aku trksiap dan tertegun sesaat mnahan rasa yg aneh
yg mnjalar dbalik sum2 tulang blakangku
menderu porak porandakan persendianku
mata nanar mnatap kucing yg ktakutan amat sangat
saat itu jg lewat di dpn mataku byang2 masa pencarianku yg trkatung2
pd sisi glapku amat mndera rasa khilangan yg brulang dlm kurun trpasung
mencari jati diri brgeming mnatap rembulan bolong
kucing buduk mnggigil mnahan nyeri
cma ada sgenggam asa yg lusuh
trgletak di sudut almari usang
senyap . . . .
Katakan
Bagikan
12 Oktober 2009 jam 9:32 | Sunting Catatan | Hapus
Diunggah melalui Facebook Seluler
Kemarin kurengkuh dari sebongkah hatimu yg trtinggal di sudut laci meja kerjamu
waktu kau branjak pergi untk mnyusun kegundahan yg akan kautumpahkan di kantong plastik yg kau beli kmarin
hari itu juga kgundahanmu mmbuncah dg desakan emosi yg sangat liar dan sarat beban
lihatlah anak2 polos brgumam dalam sumpah serapah yg kosong
menanggapi kgundahanmu yg slalu brganti stiap detik detik
kmudian kau lampiaskan amarahmu pada buku2 yg kau baca seolah kau lampiaskan pada sang idola yg slalu jadi sosok yg kaku
kmudian slalu kau nukilkan sjumput kata untuk kau sematkan di setiap ruas hatimu yg bopeng bopeng
Bagikan
12 Oktober 2009 jam 9:32 | Sunting Catatan | Hapus
Diunggah melalui Facebook Seluler
Kemarin kurengkuh dari sebongkah hatimu yg trtinggal di sudut laci meja kerjamu
waktu kau branjak pergi untk mnyusun kegundahan yg akan kautumpahkan di kantong plastik yg kau beli kmarin
hari itu juga kgundahanmu mmbuncah dg desakan emosi yg sangat liar dan sarat beban
lihatlah anak2 polos brgumam dalam sumpah serapah yg kosong
menanggapi kgundahanmu yg slalu brganti stiap detik detik
kmudian kau lampiaskan amarahmu pada buku2 yg kau baca seolah kau lampiaskan pada sang idola yg slalu jadi sosok yg kaku
kmudian slalu kau nukilkan sjumput kata untuk kau sematkan di setiap ruas hatimu yg bopeng bopeng
Cerita biasa
Bagikan
12 Oktober 2009 jam 23:37 | Sunting Catatan | Hapus
Diunggah melalui Facebook Seluler
Tak ada yg luar biasa dr skedar crita tentang orang2 di skitar
pdhal tak ada yg mnarik untk disimak jd sbuah kisah yg mnggugah smangat untk brbagi
namun kbiasaan yg tk trtahankan untk ungkapkan sisi lain dr kbingunganku mncari akar prgulatan simpul2 otak majalku
slalu saja kutmui alur buntu yg mnghndaki ku brbaur dg dunia hayal yg smakin jadi arena hiburan yg plng mahal
krna dg bgitu rasa smangatku tlah luntur dan hrs dbyar mahal dg sgla sasaran yg trtunda brulang kali
dan jerih payah yg tak trcapai dg trpaksa tlah mnggali hutang2 yg kian mnggunung
tlah mrugi sgala kbradaanku dlm mmbanggun tanggung jawab, harga diri dan kberpihakan pd kisi2 nilai moral yg plng rendah skalipun
aku tak ada cerita yg mnarik untk disimak jadi sbuah pristiwa luar biasa
krna hanya spenggal mimpi memalukan
Bagikan
12 Oktober 2009 jam 23:37 | Sunting Catatan | Hapus
Diunggah melalui Facebook Seluler
Tak ada yg luar biasa dr skedar crita tentang orang2 di skitar
pdhal tak ada yg mnarik untk disimak jd sbuah kisah yg mnggugah smangat untk brbagi
namun kbiasaan yg tk trtahankan untk ungkapkan sisi lain dr kbingunganku mncari akar prgulatan simpul2 otak majalku
slalu saja kutmui alur buntu yg mnghndaki ku brbaur dg dunia hayal yg smakin jadi arena hiburan yg plng mahal
krna dg bgitu rasa smangatku tlah luntur dan hrs dbyar mahal dg sgla sasaran yg trtunda brulang kali
dan jerih payah yg tak trcapai dg trpaksa tlah mnggali hutang2 yg kian mnggunung
tlah mrugi sgala kbradaanku dlm mmbanggun tanggung jawab, harga diri dan kberpihakan pd kisi2 nilai moral yg plng rendah skalipun
aku tak ada cerita yg mnarik untk disimak jadi sbuah pristiwa luar biasa
krna hanya spenggal mimpi memalukan
Bangun tidur
Bagikan
13 Oktober 2009 jam 7:09 | Sunting Catatan | Hapus
Diunggah melalui Facebook Seluler
Pagi yg mragukan skali mmulai aktivitas rutin mnyusun dan mngumpulkan kberanian brkubang penat
mmbayangkan saja trasa lunglai skujur tubuh rapuh ini branjak
kadar kbrpihakkanku pd etos yg slama ini jd jargon tlh mnjadi usang dan asing
smuanya hanya mnunggu pnantian yg entah kapan mnjadi knyataan dan dpt mngurai simpul benang kusut
mnyusun strategi baru smbil brharap esok pagi mnjanjikan harapan yg dpt kutempa mnjadi sbuah pionir yg plng mumpuni
dan tak brcita cita mmbangun angan yg sundul langit
namun ingin ttap brsahaja mskipun pundi2 tlah mmbukit di ladang gersang dulu kala
ini baru sbuah angan
ini baru sbuah pinta
ini baru sbuah komitmen
ini memang hayalanku
Bagikan
13 Oktober 2009 jam 7:09 | Sunting Catatan | Hapus
Diunggah melalui Facebook Seluler
Pagi yg mragukan skali mmulai aktivitas rutin mnyusun dan mngumpulkan kberanian brkubang penat
mmbayangkan saja trasa lunglai skujur tubuh rapuh ini branjak
kadar kbrpihakkanku pd etos yg slama ini jd jargon tlh mnjadi usang dan asing
smuanya hanya mnunggu pnantian yg entah kapan mnjadi knyataan dan dpt mngurai simpul benang kusut
mnyusun strategi baru smbil brharap esok pagi mnjanjikan harapan yg dpt kutempa mnjadi sbuah pionir yg plng mumpuni
dan tak brcita cita mmbangun angan yg sundul langit
namun ingin ttap brsahaja mskipun pundi2 tlah mmbukit di ladang gersang dulu kala
ini baru sbuah angan
ini baru sbuah pinta
ini baru sbuah komitmen
ini memang hayalanku
kelu
Bagikan
09 November 2009 jam 13:29 | Sunting Catatan | Hapus
kusut ini tak pernah lepas dari stiap pertarungan yang melelahkan
badan ini rontok, tak ada harapan membangun diri, menata diri, apalagi menopang beban
mimpi yang kemarin sore telah usai
namun kenyataan ini sudah bikin miris
pait
Tuhan, sayangmu terlalu memanjakan aku dalam kemalasan
tak munculkan jalan terangMu yang jadi obsesiku
tak juga Kau angkat aku dalam derajat satu jengkal sekalipun
atau aku tak ada syukurnya?
Bagikan
09 November 2009 jam 13:29 | Sunting Catatan | Hapus
kusut ini tak pernah lepas dari stiap pertarungan yang melelahkan
badan ini rontok, tak ada harapan membangun diri, menata diri, apalagi menopang beban
mimpi yang kemarin sore telah usai
namun kenyataan ini sudah bikin miris
pait
Tuhan, sayangmu terlalu memanjakan aku dalam kemalasan
tak munculkan jalan terangMu yang jadi obsesiku
tak juga Kau angkat aku dalam derajat satu jengkal sekalipun
atau aku tak ada syukurnya?
KEMILAU
Bagikan
20 Desember 2009 jam 12:47 | Sunting Catatan | Hapus
kembara ini tak berujung pangkal pada pokok dahan
yang bercabang menuju langit tak berakhir
ketika melihat surut ke belakang merunut kisah
yang tertuang dalam masa lalu masa kini
hari ini masih menunggu badai mereda
dalam kening yang mengerucut menahan pening
hanya ada kemilau yang menuntun
kemana aku berjejak dalam langkah yang masygul
kembara ini masih mencari figur
yang musnah beberapa kurun yang silam
tersaruk aku menatap bayangan fana
mendera dinding dinding kedap nurani
yang bebal menyimak suara suara lembut
dari ruh ruh yang diberkahi
terasa muskill memahami kidung kidung pujian atasMu
yang mengumbar denting denting cahaya
pada dian
yang minyaknya memancarkan cahaya itu sendiri
kembara pada bumi yang sempit ini memehami gubahan
yang menyesatkan pandang kasat mata
namun ketika terjerumuskan pandang
pada kehidupan yang nanar
sungguh sangat terjerembab
pada kepundan maksiat penuh bersak nanah dan bopeng
tak tertuntun cahaya yang lingsir
bersama lenyapnya matahati yang telah redup
adakah yang setitik cahaya itu
menuntun dari keterjerembaban yang melebam?
Bagikan
20 Desember 2009 jam 12:47 | Sunting Catatan | Hapus
kembara ini tak berujung pangkal pada pokok dahan
yang bercabang menuju langit tak berakhir
ketika melihat surut ke belakang merunut kisah
yang tertuang dalam masa lalu masa kini
hari ini masih menunggu badai mereda
dalam kening yang mengerucut menahan pening
hanya ada kemilau yang menuntun
kemana aku berjejak dalam langkah yang masygul
kembara ini masih mencari figur
yang musnah beberapa kurun yang silam
tersaruk aku menatap bayangan fana
mendera dinding dinding kedap nurani
yang bebal menyimak suara suara lembut
dari ruh ruh yang diberkahi
terasa muskill memahami kidung kidung pujian atasMu
yang mengumbar denting denting cahaya
pada dian
yang minyaknya memancarkan cahaya itu sendiri
kembara pada bumi yang sempit ini memehami gubahan
yang menyesatkan pandang kasat mata
namun ketika terjerumuskan pandang
pada kehidupan yang nanar
sungguh sangat terjerembab
pada kepundan maksiat penuh bersak nanah dan bopeng
tak tertuntun cahaya yang lingsir
bersama lenyapnya matahati yang telah redup
adakah yang setitik cahaya itu
menuntun dari keterjerembaban yang melebam?
Rabu, Desember 23, 2009
KETIKA GAMANG ITU MENGOYAK BATAS MIMPI USANGKU
kembali dari mimpi mimpi usang
yang kabur bersama kabut malam
telusuri jejak jejak di tanah terjal
menggerus air yang tersendat
kau tak beranjak juga
dari tempat duduk yang dulu
menunggu dalam kegamangan
mimpi yang tak pernah usai
sulit menembus batas nyata
dari kehidupan yang tak menyisakan kebersamaan
taman ini saksi bisu pada pohon yang melambai dalam gerimis amis
dari bau darah luka lama yang terlanjur menjadi borok anyir
menggenang pada seonggok daging tertepis
kenapa jejak jejak itu terngiang dalam suara yang menyayat penuh getir
yang bergolak
hati ini terkoyak
yang berdegup
mulut ini terkatup
yang berdebar
jiwa ini terkapar
yang berdentum
darah ini terkulum
yang berdesir
ruh ini menggulir
yang kurindukan taman penanatian
tatkala kau tak beranjak juga dari tampat duduk yang dulu
namun dengan pengharapan yang tak pernah usai
kabut yang lembut jelmakan embun
menyongsong ufuk menggeliat sendu
tak ada lagi mimpi usang penuh jelaga basi
sebatang dahan tempat kau bernaung menahan gigil dingin
namun kau berikan keyakinan satu harapan
tentang kehangatan yang kau tawarkan
dari awal yang telah kau bangun dalam tumpahan
segala gundah yang terendus lewat rumah mayamu
yang dulu bergelimang kata-kata atau candamu
menuai kegairahan rongga hati yang dulu pernah beku
yang kabur bersama kabut malam
telusuri jejak jejak di tanah terjal
menggerus air yang tersendat
kau tak beranjak juga
dari tempat duduk yang dulu
menunggu dalam kegamangan
mimpi yang tak pernah usai
sulit menembus batas nyata
dari kehidupan yang tak menyisakan kebersamaan
taman ini saksi bisu pada pohon yang melambai dalam gerimis amis
dari bau darah luka lama yang terlanjur menjadi borok anyir
menggenang pada seonggok daging tertepis
kenapa jejak jejak itu terngiang dalam suara yang menyayat penuh getir
yang bergolak
hati ini terkoyak
yang berdegup
mulut ini terkatup
yang berdebar
jiwa ini terkapar
yang berdentum
darah ini terkulum
yang berdesir
ruh ini menggulir
yang kurindukan taman penanatian
tatkala kau tak beranjak juga dari tampat duduk yang dulu
namun dengan pengharapan yang tak pernah usai
kabut yang lembut jelmakan embun
menyongsong ufuk menggeliat sendu
tak ada lagi mimpi usang penuh jelaga basi
sebatang dahan tempat kau bernaung menahan gigil dingin
namun kau berikan keyakinan satu harapan
tentang kehangatan yang kau tawarkan
dari awal yang telah kau bangun dalam tumpahan
segala gundah yang terendus lewat rumah mayamu
yang dulu bergelimang kata-kata atau candamu
menuai kegairahan rongga hati yang dulu pernah beku
Langganan:
Postingan (Atom)