Senin, Januari 13, 2014

Rasa Syukur

Kita sering terlalu peka apabila dalam lapar dan tak punya uang suka ngiler ketika lewat di depan warung bakso, warung makan sea food atau warung sate yang sedang ramai pengunjungnya. Ada banyak deretan mobil yang para majikannya sedang menikmati hidangan di dalamnya. Asap pembakaran sate yang tak sengaja tercium selalu menambah rasa lapar. Kita lantas hanya bisa menelan ludah dalam-dalam. Lantas hanya bisa membayangkan, kapan kita bisa menikmati hidangan seperti itu?

Ada banyak nasib kurang beruntung ini sebagai cerminan bagi kita saat sedang dirundung kesusahan. Maka bertebaran hikmah yang ternyata akan menjadikan hidup ini bernilai, bukan lantaran kita berkecukupan. Tetapi kita bisa banyak belajar bagaimana mensyukuri suatu nikmat yang sudah kita rasakan.

Bagi yang nasibnya kurang beruntung, mereka menjalani hidup dengan kadar keikhlasan sebagaimana mereka menerima nasib ini dengan lapang dada. Bagi mereka hidup ini sudah terbiasa kekurangan. Toh mereka akan menghibur diri, ya mau apa lagi? Memang kenyataannya demikian. Mereka ikhlas bekerja keras dengan hanya mengandalkan kerja kasar (kerja yang mengandalkan lebih banyak fisik). Sebenarnya tidak, dalam tataran sebagai pekerja mereka juga menggunakan otak untuk pekerjaan yang membutuhkan keahlian tertentu. Yang jika tidak menguasai skill tertentu belum tentu orang yang mampu secara otakpun dapat menguasainya. Hanya saja soal nasib keberuntungan belum melekat sebagai bentuk keberuntungan itu sendiri.

Ini mneyangkut naik turunnya derajat nasib dan takdir manusia. Adakalanya suatu saat berada di atas, lalu tiba-tiba jatuh pada tataran tingkat yang paling bawah. Kita masing-masing mempunyai perputaran nasib atau mempunyai lingkaran dalam berbagai pola, besarannya dan kecepatan waktu yang dialaminya. Sehingga kita akan menjumpai perputarannya dengan percepatan yang berbeda-beda, sehingga kita tidak akan mengetahui lingkaran takdir seseorang.

Kembali lagi, kita akan merasakan apa yang mereka alami. Atau sedang benar-benar mengalaminya. Maka kita akan dihimbau untuk meneladani dari segi kesikapan sebagaimana adanya mereka. Lantas jika sudah demikian kita akan tetap merasakan dan selalu bersyukur atas semuanya. Kita lantas akan disuruh membanding-bandingkan diri kita dengan orang yang lebih berkekuarangan dari kita. Pasti ada.

Jadi rasa syukur dan selalu melihat dan merasakan sesuatu yang harus disyukurilah yang akan mengantarkan mereka pada gerbang kedamaian dan ketentraman batin. Bersyukur itu tidak suka cepat mengeluh, semua dibicarakan dalam rangka mencari solusi dan tidak saling menyalahkan sesama saudara, famili, suami istri dan sesama sahabat. Dan marilah kita selalu bersyukur, baik saat susah maupun senang.


Bumiayu, 120114

Tidak ada komentar: