Jumat, Desember 27, 2013

MENCARI DI SELA LIPATAN AWAN


jika saatnya tiba lalu akan apa?
merangkai lagi memori pada lorilori tebu
seduh kembali minuman itu, teguk bersama
seraya menggulung sepi, menikmati baitbait puisi

pagutan majas menyusuri bibir dan melumat tiap kata
pada suara yang hampir tak terdengar, seperti igauan
desis nafas memburu saat mengejan pada asonansi tertentu
pada ketukan nada mendetak jantung

duhai, tabir semakin tebal, kusibak berkalikali
mencarimu di sela lipatan awan atau di belakang rembulan
denting melengking, secara kasat kau memanggilku
bertemu di dangau penuh diksi dan metafora

andai semula sudah terkultus, ingin berlamalama
mengembara di alam entah penuh desah-meresah
sejenak bepikir, mengukir cendana, yang
tumbuh di belakang rerimbun rinai hujan

271213

PENGEMBARAAN RASA

Kuingin kembali lagi di pelataran sunyi
saat itu, semua manusia berhambur raib entah kemana
saksi bisu bagi diskusi seru tentang rasa dalam nafasnafas
pada pergumulan tumpang tindih menimang tanya

ingatan masih melekat kuat, segelas dingin teh manis merekat kesumat
duhai, manisnya sua melahir cerita, cinta dan tikaman rindu
kutelusuri ranting yang terbawa angin, hanya berkutat pada geletar
debar puisi mengisi ruang hati, membagi desah-risau

persandingan rasa, persaingan masa, tanda tanya.. sesak sekali di dada
kemanjaan mencocok hidungku mengikuti hembusan nafas
melarung ingatan di laut lepas, tak juga meretas
lalu rebahlah pada sandaran, mengelabui lampu dari kilaunya

021113

SEMIOTIKA BAHASA TUBUH SANG PECINTA

seleluasa mengusap wajahmu pada tiap-tiap lekuk melembah kuberbaring
sesekali mengusap bibir, gigitan kecil pada jejariku sederet gigi menggigil
ada bisikan terperangkap mataku dari gerak bibirmu hendak menggumam
membentuk mimik manja, memantik bara di sekujurku mendidih hujanku

pada lumatan yang kentara aku lupa arah akan kemana
secara diam-diam ada anak rambut menjuntai, kacau pikiranku
waktu yang terus tergelincir aku sudah mulai sirna segala nestapa
ada rangkaian yang terputus ketika lupa akan ujung yang satu

masih dengan canggung, memandang yang terantuk sorot tajam
ada binar atau semacam kehilangan ketika hendak berseteru pandang
kau mulai menggelisahkan debar, sesekali mengusap dada, meredamnya
aku hanya bisa tersenyum dalam hati, sebegitu dalamnya kau menggali

kaureguk piala yang hanya tersisa ampas dari air yang terlambat bergulir
serta merta ketergagapanku kau bungkam dengan bibirmu
mataku nyalang rabun berkunang-kunang, ada selilit di unjungnya
suasana rimbun oleh daun berguguran, angin atau dahankah yang patah?

terpaku aku yang barusan tak membosan mempermainkan memori
ada titir menggugahku, kuhempas semua getir pada sesak nafasku
kubentang tubuh menatap langit, menantangnya berfatwa cinta
ternyata bulan hanya membisu, sembunyikan wajah di belukar malam

Sanggar Sunyi, 191013
 

PELIPURAN



Senyumlah, sekalipun duka memerih..
akan ada cahaya menerpa dan semangat untuk menjalani hidup
akan ada yang menuntun pada pelipuran..
duka hanya alasan untuk menjemput bahagia


201213
ANTARA LAPAK, LINCAK DAN TAPLAK

Memulung puisi di berandaku
mengais-ngais di setiap sela-sela lapak
barangkali ada yang bisa kusimpan
lalu teronggok menjadi sampah baru

lincak tempat aku menggelar taplak
menjajakan jualan sambil merenda kata
sesekali menawarkan dengan musikalisasi sunyi
mulut ekspresif menenung para pejalan kaki

wahai para pengelana di bumi
berhentilah dan jangan suntuk
nikmati sajian musyafir pengelana jagat mimpi
mungkin bisa meluruskan jalanmu

kupungut sajak yang tersisa
diantara mutiara berserakan
kulongok kolong, dengan teropong hati kuterawang
yang terketuk dan berhenti, menghimpun  dalam antologi?


Bumiayu, 261213