Rabu, Desember 23, 2009

KETIKA GAMANG ITU MENGOYAK BATAS MIMPI USANGKU

kembali dari mimpi mimpi usang
yang kabur bersama kabut malam
telusuri jejak jejak di tanah terjal
menggerus air yang tersendat
kau tak beranjak juga
dari tempat duduk yang dulu
menunggu dalam kegamangan
mimpi yang tak pernah usai
sulit menembus batas nyata
dari kehidupan yang tak menyisakan kebersamaan

taman ini saksi bisu pada pohon yang melambai dalam gerimis amis
dari bau darah luka lama yang terlanjur menjadi borok anyir
menggenang pada seonggok daging tertepis
kenapa jejak jejak itu terngiang dalam suara yang menyayat penuh getir

yang bergolak
hati ini terkoyak
yang berdegup
mulut ini terkatup
yang berdebar
jiwa ini terkapar
yang berdentum
darah ini terkulum
yang berdesir
ruh ini menggulir

yang kurindukan taman penanatian
tatkala kau tak beranjak juga dari tampat duduk yang dulu
namun dengan pengharapan yang tak pernah usai
kabut yang lembut jelmakan embun
menyongsong ufuk menggeliat sendu
tak ada lagi mimpi usang penuh jelaga basi

sebatang dahan tempat kau bernaung menahan gigil dingin
namun kau berikan keyakinan satu harapan
tentang kehangatan yang kau tawarkan
dari awal yang telah kau bangun dalam tumpahan
segala gundah yang terendus lewat rumah mayamu
yang dulu bergelimang kata-kata atau candamu
menuai kegairahan rongga hati yang dulu pernah beku

Tidak ada komentar: