ANTARA LAPAK, LINCAK DAN TAPLAK
Memulung puisi di berandaku
mengais-ngais di setiap sela-sela lapak
barangkali ada yang bisa kusimpan
lalu teronggok menjadi sampah baru
lincak tempat aku menggelar taplak
menjajakan jualan sambil merenda kata
sesekali menawarkan dengan musikalisasi sunyi
mulut ekspresif menenung para pejalan kaki
wahai para pengelana di bumi
berhentilah dan jangan suntuk
nikmati sajian musyafir pengelana jagat mimpi
mungkin bisa meluruskan jalanmu
kupungut sajak yang tersisa
diantara mutiara berserakan
kulongok kolong, dengan teropong hati kuterawang
yang terketuk dan berhenti, menghimpun dalam antologi?
Bumiayu, 261213
Tidak ada komentar:
Posting Komentar