Jumat, Desember 27, 2013

SEMIOTIKA BAHASA TUBUH SANG PECINTA

seleluasa mengusap wajahmu pada tiap-tiap lekuk melembah kuberbaring
sesekali mengusap bibir, gigitan kecil pada jejariku sederet gigi menggigil
ada bisikan terperangkap mataku dari gerak bibirmu hendak menggumam
membentuk mimik manja, memantik bara di sekujurku mendidih hujanku

pada lumatan yang kentara aku lupa arah akan kemana
secara diam-diam ada anak rambut menjuntai, kacau pikiranku
waktu yang terus tergelincir aku sudah mulai sirna segala nestapa
ada rangkaian yang terputus ketika lupa akan ujung yang satu

masih dengan canggung, memandang yang terantuk sorot tajam
ada binar atau semacam kehilangan ketika hendak berseteru pandang
kau mulai menggelisahkan debar, sesekali mengusap dada, meredamnya
aku hanya bisa tersenyum dalam hati, sebegitu dalamnya kau menggali

kaureguk piala yang hanya tersisa ampas dari air yang terlambat bergulir
serta merta ketergagapanku kau bungkam dengan bibirmu
mataku nyalang rabun berkunang-kunang, ada selilit di unjungnya
suasana rimbun oleh daun berguguran, angin atau dahankah yang patah?

terpaku aku yang barusan tak membosan mempermainkan memori
ada titir menggugahku, kuhempas semua getir pada sesak nafasku
kubentang tubuh menatap langit, menantangnya berfatwa cinta
ternyata bulan hanya membisu, sembunyikan wajah di belukar malam

Sanggar Sunyi, 191013
 

Tidak ada komentar: